Dalam novel ini, Raditya Dika
menceritakan kesehariannya dari dia mau masuk SMA 70 biar bisa mainin burung
sampe ke cerita cintany yang pastinya sangat kocak. Berikut potongan cerita
dalam novel ini:
Kesurupan Mbak Minah semakin
menjadi-jadi. Tubuhnya semakin susah dikendalikan oleh kita bertiga. Lalu tiba-tiba
Ingga, Ingga berkata, ‘Pencet idungnya, Bang.’
‘Apa?’
‘Idungnya,’ Ingga meyakinkan. ‘Aku pernah baca dimana gitu, pencet aja
idungnya.’
‘Tapi, Ngga?’
‘ABANG! PENCET IDUNGNYA SEKARANG!’ Edgar memerintahkan gue.
Daripada kehilangan nyawa, gue ikutin saran mereka. HAP! Gue pencet idungnya
Mbak Minah. Kita semua terdiam untuk beberapa saat. Semua menunggu efek yang
datang dari memencet idung orang kesurupan. Apakah setannya akan keluar? Apa yang
akan terjadi setelah ini?
Ternyata,
gak ngefek.
gak ngefek.
‘Kok nggak ngaruh?’ tanya gue.
Ami, yang emang expert soal kesurupan, langsung teriak, ‘YA IYALAH!!!! JEMPOL
KAKINYA TAU YANG DIPENCET, BUKAN IDUNG!’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar