Cerita dimulai saat Lail ingin berangkat sekolah, di tahun 2042, saat breaking news tentang
krisis air begitu mengkhawatirkan penduduk bumi. Lail, yang kala itu
masih kecil, belum mengerti. Sampai akhirnya bencana itu terjadi.
Bencana yang membuatnya jadi anak yatim piatu.
Dan saat itulah ia bertemu Esok, pemuda baik yang menjadi sosok
kakak untuk Lail. Lail dan Esok adalah anak-anak berbakat yang memiliki
keterampilan.
Tere Liye mengisahkan kisah ini dengan begitu menyenangkan. Saya
diajak berimajinasi tentang bumi di masa depan. Saya diajak bertualang
bersama Lail dan Maryam, sahabat Lail dengan rambut kribo, dalam
melewati tes. Saya ikut khawatir dengan hujan yang berbahaya. Saya ikut
cemas memikirkan nasib Lail dan Esok. Saya ikut waswas dengan akhir
cerita pasangan ini.
Ya, novel ini amat sangat saya rekomendasikan. Di sini, menurut
saya, Tere Liye begitu menjelaskan perbedaan antara laki-laki dan
perempuan dalam menata hati. Dan yang paling membuat saya ikut tenggelam
dalam cerita ini adalah saat menuju akhir cerita. Syukurlah, saya
begitu lega saat menamatkan novel ini.
Hujan sangat layak dibaca. Novel ini mengajarkan kita
bagaimana harus berjuang. Bagaimana seharusnya manusia bersikap untuk
terus melangkah, menghargai persahabatan, menghargai cinta, dan yang
paling penting… bagaimana manusia seharusnya memiliki keikhlasan.
Mungkin sama seperti Lail, hujan memiliki melankoli atau kenangan tersendiri bagi kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar